Membentuk Karakter
Siswa SMAN 10 Samarinda
Karakter dan kepribadian seorang
warga negara menunjukkan karakter suatu bangsa. Maka dari itu, dibutuhkan suatu
karakter dari seseorang yang dapat menunjukkan bangsa tersebut merupakan bangsa
yang kuat dan tidak gampang dianggap remeh.
Pembentukan
karakter siswa dimulai pertama kali dalam lingkungan keluarga dan selanjutnya
di lingkungan sekitar tempat tinggal. Keluarga dapat dikatakan adalah peletak dasar bagi
pendidikan seorang anak. Artinya keluarga sangat berperan dalam perkembangan
kepribadian anak.
Namun pada
masa sekarang sekolah dibutuhkan karena masyarakat modern dengan kebudayaan dan
peradaban yang telah maju menimbulkan berbagai permasalahan yang kompleks
sehingga dibutuhkan pendidikan yang lebih mendasar dalam pembentukan
kepribadian seorang siswa. Pendidikan ini disebut sebagai pendidikan karakter.
Pendidikan
karakter adalah pendidikan yang membagi fokusnya terhadap dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter individu yang
dalam hal ini lebih ditekankan kepada sikap, perilaku dan cara berpikir
individu. Pendidikan karakter sangat penting perannya dalam membatasi langkah
dan perilaku individu agar tidak melanggar norma dan hal-hal lain yang
bertentangan dengan budaya masyarakat timur. Pendidikan karakter sangat baik
jika diterapkan sejak dini dengan sasaran anak-anak agar terbentuk pribadi yang
memiliki pandangan dan ideologi sendiri. Pendidikan karakter tidak harus masuk
dalam kurikulum pendidikan. Ini hanyalah proses dari perbaikan sistem nilai dan
akhlak. output dari pendidikan karakter adalah membentuk
manusia-manusia berkualitas dan berkarakter yang siap bersaing tanpa terbawa
arus yang berlebihan.
Pendidikan karakter memiliki fungsi
yang cukup strategis untuk pembentukan karakter siswa dan menumbuhkan kesadaran
diri siswa. Di dalam pendidikan karakter sekolah terdapat pendidikan agama yang
merupakan tuntunan dalam berperilaku entah itu hubungan antara manusia dengan
Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar.
Dalam menjalankan fungsinya yaitu
dapat menumbuhkan kesadaran diri siswa ada beberapa macam kesadaran siswa.
Pertama, yaitu kesadaran diri siswa sebagai hamba Tuhan. Maksudnya, siswa
dituntut agar selalu menjadikan agama sebagai landasan dalam berperilaku di
dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan landasan dalam berkarakter. Kedua,
kesadaran diri siswa sebagai makhluk sosial. Kesadaran diri ini bisa membuat
siswa menjadi lebih toleran terhadap sesamanya di sekolah maupun di lingkungan
sekolah tempat tinggal. Misalnya, tidak berisik ketika ada teman yang berbeda
agama sedang beribadah. Selain itu, diharapkan siswa berperilaku yang baik
sesama teman misalnya tolong-menolong. Ketiga, kesadaran diri siswa bahwa
manusia tinggal di bumi tidak sendiri. Tetapi, Tuhan menciptakan berbagai
makhluk hidup agar sesama mereka dapat saling menjaga satu sama lain. Keempat,
kesadaran diri kita sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dengan akal, pikiran,
dan segala bakat dan potensi kita. Maka dari itu, kita dituntut agar selalu
bersyukur terhadapNya dan mengembangkan potensi yang kita punya. Jika
macam-macam kesadaran diri siswa dapat kita lakukan, maka akan menumbuhkan
kepercayaan diri siswa sehingga akan terbentuk karakter siswa yang bagus.
Dalam pembentukan karakter siswa
dibutuhkan waktu dan komitmen entah itu dari orang tua, masyarakat, sekolah
atau guru, dan lain-lain untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Jika
ruang lingkup pembentukan karakter siswa berada dalam lingkup yang kecil
seperti keluarga, maka yang dibutuhkan waktu dan komitmennya adalah orang tua
dan keluarga. Begitu pula jika pembentukan karakter siswa terjadi di dalam
sekolah, maka yang diperlukan adalah guru dan warga sekolah lainnya. Maksudnya
waktu dan komitmen adalah jika kita sedang dalam proses mengajarkan suatu
pendidikan karakter bagi siswa komitmen kita agar selalu bersabar dan selalu
mengajarkan yang positif sedangkan waktu adalah periode kita dalam mengajarkan
pendidikan karakter tersebut. Manfaatnya bukan hanya untuk siswa yang kita
ajarkan, tetapi berdampak juga ke kita. Misalkan dengan kita bersabar kita
dapat mengetahui karakter siswa sehingga kita dapat memberikan pengajaran yang
sesuai dengan karakter siswa tersebut.
Peran keluarga dalam pembentukan karakter bagi siswa merupakan masa yang
paling efektif karena disitulah siswa memiliki dasar karakter tersebut. Jika di
sekolah, siswa hanya lebih diajarkan dalam berperilaku yang baik dan memiliki
karakter yang baik. Dalam keluarga pun jika ingin menanamkan karakter yang baik
harus berdasarkan kepada ajaran agama yang dianut. Ada beberapa cara untuk
menanamkan karkater dasar anak yang baik agar anak memiliki rasa percaya diri.
1) menemukan kemampuan unik pada anak. Semakin
anak-anak mampu mengenali kemampuan unik mereka, akan semakin tinggi
kepercayaan diri yang mereka miliki. Bantu anak menyadari kemampuannya sendiri
tanpa memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkan, dan hentikan membandingkan
kemampuan mereka dengan saudara lainnya. 2) mengapresiasikan prestasi dan hasil
kerja keras mereka. 3) fokus terhadap tindakan mereka bukan pada penampilan
mereka. Don’t judge the book from its cover, sesuai dengan quote tersebut
anak-anak dihaarapkan agar lebih memperhatikan tingkah laku mereka, bukan hanya
memperhatikan penampilan saja terutama bagi anak perempuan. 4) Memuji anak.
Karena semua orang pasti menyukai suatu pujian, apalagi anak-anak. Dengan cara
memuji mereka, dapat menumbuhkan rasa percaya diri mereka. 5) membantu anak
agar menonjolkan sisi positif dari diri mereka, daripada sisi negatifnya. 6)
kita jangan selalu membantu anak-anak dalam memecahkan segala masalah. Beri
waktu unutk anak-anak agar lebih mandiri dan lebih kreatif dengan memecahkan
masalah yang dihadapi dengan pemikiran diri
mereka sendiri. 7) bantu anak agar selalu mengambil pelajaran dari
kesalahan yang diperbuat di masa lalu, agar anak tidak terus-menerus terpuruk
dalam kesedihannya karena melakukan kesalahan.
Setelah sukses dalam menanamkan karakter dasar
pada diri anak-anak agar memiliki karakter yang baik, maka dilanjutkan dalam
ruang lingkup sekolah.
Di
sekolah, karakter siswa yang sudah ada tersebut dipoles lagi agar anak-anak
agar dapat dengan mudah beradaptasi dan berperilaku sesuai dengan norma-norma
yang berlaku. Caranya dengan pendidikan karakter. Pendidikan sesungguhnya
berkaitan erat dengan manusia. manusia dan pendidikan merupakan dua sisi dari satu kehidupan. Melalui
pendidikan seseorang dapat dimanusiakan menjadi manusia. Tetapi, ini
semua kembali pada sistem pendidikan yang berlaku di suatu negara. Contohnya
Indonesia, ternyata Lembaga
pendidikan di Indonesia ternyata gagal berperan sebagai pranata sosial yang
mampu membangun karakter bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai normatif
kebangsaan yang dicita-citakan. Sekarang Indonesia sedang mengalami suatu
bencana yang disebut sebagai krisi karakter bangsa. Banyak pelajar-pelajar yang
tawuran entah itu anta geng maupun antar sekolah, ada juga pelajar yang memakai
narkoba, dan banyak pula pelajar Indoneisa yang sudah melakukan hubungan seks
di luar nikah. Tragedi ini menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan suatu
perbaikan di sistem pengajaran dan pendidikan yang dapat mencegah terjadinya
krisis karakter bangsa ini. Suatu sistem pendidikan yang lebih menekankan pada
kepribadian masing-masing individu. Yang dapat menanamkan karakter dan
kepribadian siswa agar lebih berperilaku sesuai dengan norma. Saat ini, belum
ada usaha yang serius dari pemerintahan untuk mencari akar dari segala
keterpurukan bangsa ini pada pendidikan. Pendidikan yang formal juga belum
membawa anak didik pada kesadaran akan dirinya sendiri sebagai manusia yang
memilik akal dan pikiran. Sistem pendidikan kita hanya mengandalkan cara
berpikir yang bermuatan kurikulum, bukan pada pembentukan karakter anak didik.
Banyak sudah negara yang sekolah-sekolahnya memiliki sistem pendidikan
berkarakter. Misalkan Cina, bisa melakukan pendidikan karakter untuk 1,3 miliar
menjadi manusia yang berkarakter (rajin, jujur, peduli terhadap sesama, rendah
hati, terbuka), Indonesia tentunya bisa melakukannya. Namun, gaung pendidikan
karakter belum banyak terdengar dari para pemimpin kita. Tentunya, sebagai
warga negara yang bertanggung jawab, kita semua bisa melakukannya dalam
sekolah.
Kecakapan kesadaran diri pada
dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai
anggota masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan, serta
menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus
menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang
bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Dengan kesadaran diri
sebagai hamba Tuhan, seseorang akan terdorong untuk beribadah sesuai dengan
agama dan kepercayaannya, serta mengamalkan ajaran agama yang diyakininya.
Pendidikan agama bukan dimaknai sebagai pengetahuan semata, tetapi sebagai
tuntunan bertindak berperilaku, baik dalam hubungan antara dirinya dengan Tuhan
Yang Maha Esa, maupun hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Oleh
karena itu, walaupun kesadaran dirilebih merupakan sikap, namun diperlukan
kecakapan untuk menginternalisasi informasi menjadi nilai-nilai dan kemudian
mewujudkan menjadi perilaku keseharian.
Apa dampak pendidikan karakter
terhadap keberhasilan akademik? hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dariUniversity
of Missouri - St Louis, menunjukkan peningkatan motivasi siswa sekolah
dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan
karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan
karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat
menghambar keberhasilan akademik. Pendidikan karakter ada-lah pendidikan budi
pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut
Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan
efektif dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan
berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas
emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak
menyongong masa depan karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam
menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara
akademis. pengaruh kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah.
Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor risiko penyebab kegagalan anak di
sekolah. Faktor-faktor risiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan
otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama,
kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan
berkomunikasi. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan
mengalami kesuliran belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya.
Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah dan
kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja
yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari
masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenalan, tawuran,
narkoba, miras, perilaku seks bebas dan sebagainya. Jadi, pendidikan karakter
atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgen untukdilakukan. Kalau kita peduli
untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter
adalah usaha yang sia-sia.
Semakin berkembangnya
teknologi, setiap negara dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan
agar dapat bersaing dengan negara lain. Selain dari segi kualitas
pendidikannya, negara juga dituntut menciptakan para generasi muda yang
berkarakter. Oleh karena itu penting untuk diadakan pendidikan karakter, yaitu
metode pendidikan yang juga mengajari berperilaku. Pendidikan karakter
hendaknya terfokus pada pengembangan karakter tiap individu baik dalam segi
pengetahuan maupun pengembangan keterampilan dan sikap individu agar nantinya
terbentuk sumber daya manusia yang memiliki karakter. Pendidikan seperti apa
yang berkarakter? Semua jenis pendidikan pasti memiliki karakter atau kekhasan
tersendiri dalam pelaksanaannya. Seperti halnya di Indonesia, Ujian Nasional
masih menjadi penentu kelulusan para siswa, padahal bukan nilai ujian yang
nanti menentukan berhasil atau tidaknya siswa-siswa tersebut di lapangan.
Segera
jelas, pendidikan karakter terkait dengan bidang-bidang lain, khususnya budaya,
pendidikan, dan agama. Ketiga-tiga bidang kehidupan terakhir ini berhubungan
erat dengan nilai-nilai yang sangat penting bagi manusia dalam berbagai aspek
kehidupannya. Budaya atau kebudayaan umumnya mencakup nilai-nilai luhur yang
secara tradisional menjadi panutan bagi masyarakat. Pendidikan—selain mencakup
proses transfer dan transmissi ilmu pengetahuan—juga merupakan proses sangat
strategis dalam menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan anak manusia.
Sementara itu, agama juga mengandung ajaran tentang berbagai nilai luhur dan
mulia bagi manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan dan kebudayaannya.
0 komentar:
Posting Komentar