Persiapkan Masa Depanmu Mulai Dari
Sekarang
(bagi
para peminat jurusan IPS)
|
D
|
ewasa ini,
banyak universitas-universitas yang menyediakan banyak pilihan jurusan, tinggal
kitanya saja yang memilih. Itu semua tergantung dengan kemauan kita dan
cita-cita kita kedepannya, ingin menjadi apa kita nanti? Kerja di bidang yang
kita sukai atau sesuai dengan kemauan orang tua kah? Ya itu semua kembali ke
diri kita masing-masing jurusan manakah yang paling sesuai dengan kita dan
termasuk yang kita ahli di dalamnya. Jangan memilih jurusan hanya karena
pengaruh teman, disuruh orang tua, gengsi, dll. Yang pada akhirnya merugikan
diri kita sendiri, kita jadi malas-malasan untuk pergi kuliah, nilainya jeblok,
kehidupan kita kacau balau dan malah membuat orang tua kita bersedih.
Maka
dari itu, supaya hal-hal tersebut tidak akan terjadi, kita harus memikirkannya matang-matang
sedari dini. Untuk siswa yang memilih jurusan IPS sewaktu di SMA, ada beberapa
pilihan jurusan, ada jurusan Psikologi, Hukum, Geologi, antropologi, ilmu
budaya Korea, ilmu budaya Jepang, ilmu budaya China, ilmu budaya Thailand, ilmu
budaya negara-negara lain dan HI (Hubungan Internasional), dan sebagainya.
Namun, dari sekian banyak pilihan jurusan itu, ada beberapa jurusan yang paling
banyak diminati oleh kebanyakan calon mahasiswa sehingga untuk masuk ke jurusan
tersebut dibutuhkan kerja keras ekstra dan penerimaan mahasiswa barunya yang
ketat. Salah satu jurusan perkuliahan yang banyak diminati adalah Hubungan
Internasional (HI). HI sering dianggap sebagai cabang ilmu politik. Namun,
pihak akademia lebih suka menganggapnya sebagai suatu bidang studi
interdisipliner. Kebanyakan dari calon mahasiswa yang akan masuk kuliah dan
memilih jurusan Hubungan Internasional adalah siswa yang dulunya sewaktu di
Sekolah Menengah Atas (SMA) memilih jurusan IPS. Karena bidang ilmu yang
dipelajari nantinya kalau kita diterima di Hubungan Internasional adalah ilmu
sosial non eksak atau ilmu-ilmu yang mempelajari interaksi kita dengan
lingkungan sekitar contohnya seperti pelajaran ekonomi, sejarah, hukum
internasional, filsafat, geografi, kerja sosial, sosiologi, antropologi,
kriminologi, psikologi, studi gender, dan ilmu budaya/kulturologi. HI mencakup
rentang isu yang luas, termasuk globalisasi, kedaulatan negara, keamanan
internasional, kelestarian lingkungan, proliferasi nuklir, nasionalisme,
pembangunan ekonomi, keuangan global, terorisme, kejahatan terorganisasi,
keamanan manusia, intervensionisme asing, dan hak asasi manusia. Biasanya,
orang yang mengambil jurusan HI itu ingin bekerja menjadi diplomat luar negeri
atau bekerja sebagai staf di kedutaan besar, tetapi kalian juga bisa bekerja
sebagai pengamat politik luar negeri, bekerja di kantor saham dunia, atau bisa
saja kita diangkat oleh presiden sebagai menteri luar negeri. Hehehe...
pokoknya banyak jenis pekerjaan yang dapat kita lakukan sesuai dengan bidang
jurusan yang kita tekuni.
Pelajaran-pelajaran
ilmu sosial tersebut hanya ada dan dipelajari di jurusan IPS di SMA. Jadi,
kalau kita memang benar-benar ingin memilih jurusan Hubungan Internasional (HI)
kita harus menentukannya mulai dari lulus SMP.
Ketika
lulus SMP kita dihadapkan pada suatu pilihan, yaitu pilihan antara sekolah
unggulan atau istilahnya sekolah yang berstandar Internasional, dengan sekolah
biasa atau “pinggiran”. Masing-masing sekolah punya keunggulannya
masing-masing. Sekolah unggulan biasanya memudahkan jalan kita menuju
universitas favorit di Indonesia atau di luar negeri. Selain itu, dalam proses
belajar-mengajarnya pun berbeda dengan sekolah biasa yang lain, jam belajarnya
intensif, guru-gurunya memiliki sistem pembelajaran yang beda yaitu guru lebih
banyak mendengarkan aspirasi siswa daripada menjelaskan, jadi siswa dituntut
agar lebih cepat tanggap dan kreatif, standar nilai ketuntasannya (KKM) adalah
80 jadi kalau ada siswa yang nilainya kurang dari 80, harus siap-siap remidi.
Beda lagi halnya jika kita sekolah di sekolah yang kredibilitasnnya jelek, maka
secara tidak langsung juga berdampak buruk bagi kita. Misal, kita jadi
malas-malasan untuk bersekolah karena merasa standar nilai ketuntasannya
rendah, berfikir tidak belajar pun bisa. Hal-hal semacam ini yang dapat
memengaruhi kita kedepannya dalam penentuan jurusan kuliah karena nilai mungkin
yang tidak mencukupi atau hal-hal lain yang sebenarnya disebabkan oleh kita
juga karena kita tidak terlalu befikir jauh kedepan, mau jadi apa kita
nantinya.
Setelah
kita masuk SMA, lagi-lagi kita langsung diharuskan memilih jurusan. Tetapi, ada
juga sekolah yang melakukan penjurusan ketika siswa memasuki kelas XI. Jurusan
yang disediakan pun tidak banyak seperti di universitas. Hanya ada dua pilihan
yaitu, IPA dan IPS. di beberapa sekolah juga ada yang menyediakan pilihan
jurusan Umum dan Bahasa. Pilihan kita disini menentukan diri kita nantinya di
universitas. Karena pada saat kita memasuki universitas banyak sekali jurusan
yang ditawarkan dan jurusan yang disediakkan ini merupakan cabang dari jurusan
yang kita pilih di SMA. Jadi, kalau kita benar-benar ingin menjadi apa yang
kita cita-citakan, kita harus memikirkannya matang-matang sedari dini.
Ada
beberapa persoalan yang muncul ketika disuruh memilih jurusan. Pertama, kendala
perijinan orang tua. Banyak contoh kasus yang hampir selalu terjadi misal, ada
siswa yang ingin sekali masuk ke jurusan IPS tetapi orang tuanya tidak
membolehkan, karena menurut orang tuanya, siswa ini lebih cocok masuk IPA
selain karena selalu menjadi peringkat pertama di kelas juga siswa ini banyak
mengikuti lomba-lomba yang berhubungan
dengan MIPA dan sebagian besar menang. Kedua yaitu mengikuti teman. Dengan
alasan gengsi dan ikut-ikut teman, banyak siswa-siswa lebih memilih jurusan IPA
ketimbang jurusan IPS tetapi tidak tahu ingin menjadi apa nantinya. Ketika
ditanya alasan mengapa lebih memilih IPA daripada IPS padahal kita sama-sama
belajar hanya beda dalam ruang lingkup pembelajarannya saja. Jawaban mereka
para pemilih jurusan IPA adalah hampir sama yaitu tidak memberikan jawaban yang
spesifik dan mendasar untuk menjelaskan
alasan mereka memilih IPA. Kebanyakan dari mereka menjawab seperti “ orang tua
ku maunya aku di IPA “ atau “ banyak yang milih IPA, jadi aku juga pilih IPA “.
Ketika ditanya mau jadi apa kalian dengan memilih jurusan IPA? Mereka bilang
nggak tau, hanya saja mereka berpikir dengan mereka memilih IPA, mereka bisa
dengan mudah memilih jurusan apa saja ketika di kuliah nanti sesuai dengan
kemauan mereka. Memang benar, jurusan IPA memang bisa memilih jurusan apa pun
di universitas nanti, misal ayuna yang berasal dari IPA ingin sekali memilih
jurusan HI dan itu bisa saja terjadi, namun itu berarti ketika tes penerimaan
mahasiswa baru, mereka yang berasal dari jurusan IPA harus mengulang kembali
pelajaran IPS yang seharusnya mereka pelajari di SMA dan itu membutuhkan kerja
keras lebih karena harus mengulang pelajaran dalam waktu yang singkat untuk
mengulang kembali pelajaran. Jadi, sia-sia saja dong perjuangan kita dalam
belajar mengerti matematika, fisika, biologi, kimia, dll, yang ternyata pada
akhirnya kita memilih jurusan kuliah yang bukan berkaitan dengan
hitung-menghitung tetapi belajar mengenai hal-hal sosial atau ilmu eksak
Beda
halnya dengan siswa jurusan IPS, mereka tidak perlu susah payah mengulang
kembali pelajaran. Karena mereka sudah mempelajarinya sewaktu di sekolah.
Memang semuanya tergantung pada takdir mereka masing-masing, apakah beruntung
atau tidak, dan diselingi dengan doa.
Karena
itu, usahakan memilih jurusan itu tanpa ada desakan jadi sesuai dengan hati
nurani kita. Pikirkan baik-baik potensi kita dan kemampuan kita dalam mengikuti
pelajaran itu lebih dominan ke MIPA atau ke arah pelajaran sosial. Jangan kita
menyesal di akhir karena kita salah memilih jurusan dan tidak sesuai dengan
kita jadinya kita malah malas-malasan untuk mengikuti pelajaran dan nilai kita
jadinya hancur dan berimbas juga ke kitanya yang tidak berkembang.
Setelah
kita memilih jurusan, tekunilah pelajaran yang ada di jurusan tersebut dan
cobalah untuk mengembangkan kemampuan kita yang mungkin tersembunyi karena
selama ini, selama 9 tahun (SD+SMP) kita belajar semua mata pelajaran.
Maksudnya, mungkin selama ini kemampuan kita unutk menyerap dan mengerti pelajaran
dengan mudah itu ada di pelajaran sosial yang notabene banyak menghapal, bukan
di pelajaran MIPA yang menuntut kita agar selalu menghitung. Jika kita masuk ke
jurusan IPS, itu berarti kita sudah sesuai ditempat kita seharusnya berada.
Kemampuan kita lebih terasah dan kita lebih maju.
Semua
tahapan-tahapan tersebut adalah jalan kita menuju masa depan kita sesuai dengan
yang kita inginkan. Jadi, teruslah berjuang demi masa depan kita yang cerah
jagan pernah putus asa dan selalu iringi dengan berdoa.
SELESAI
NB: Maaf, kalau artikelnya jelek dan
asal-asalan.
0 komentar:
Posting Komentar